Padukuhan Gadung terletak di lereng selatan Gunung Merapi, secara administratif termasuk Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, DIY. Dahulu dusun ini bernama Bojonegoro, hingga pada suatu masa diubah menjadi Gadung oleh seorang sesepuh bernama Mbah Kromosemito.
Kisah Dimulai dari Simbah Kromosemito
Setelah Perjanjian Giyanti 1755, wilayah Mataram termasuk desa Bojonegoro dilanda kemarau panjang. Terjadilah paceklik, kekurangan pangan, dan keadaan tidak aman. Di tengah situasi sulit ini, rumah Simbah Kromosemito di Bojonegoro sering kemalingan, terutama makanan, namun pelakunya tak pernah tertangkap. Warga menduga pelakunya adalah siluman karena selalu menghilang di sekitar batu besar bernama Watu Gede.
Masa paceklik berkepanjangan menyebabkan bahan makanan sulit didapat. Tanaman-tanaman pangan mati karena kekeringan. Warga gagal panen padi, jagung, dan lain-lain karena kekurangan air. Tanaman yang bertahan hidup adalah umbi rambat seperti gembili, uwi, dan gadung. Di Bojonegoro, yang banyak adalah tanaman gadung. Karena sulit mendapatkan bahan pangan, dan adanya hanya gadung, maka gadung menjadi makanan pokok sehari-hari warga di desa itu.
Suatu hari, Mbah Putri Kromosemito menyiapkan jadah untuk peringatan nepton hari lahirnya dengan mengundang seluruh tetangganya. Jadah dan rangkaiannya sudah jadi, lalu disimpan di ‘glodhogan’ bersama uba rampe lainnya. Ia lalu ke ladang menyusul Mbah Kakung untuk bekerja seperti biasanya.
Namun, saat ia dan suaminya pulang dari ladang, semua makanan telah raib dicuri. Meski kecewa, mereka tetap menjamu tamu dengan makanan seadanya. Dalam acara itu, Mbah Kromosemito meminta maaf kepada para tetangga dan mengajak mereka untuk lebih waspada. Setelahnya, ia bertekad akan menjamu warga kembali dan mencari cara untuk menangkap pencuri yang telah berulang kali meresahkan.
Kisah Tanaman Gadung
Setelah insiden pencurian makanan, Mbah Kromosemito mengajak warga makan bersama jadah yang masih tersisa. Sebelum makan, ia merenungi kejadian-kejadian yang terjadi: tentang macan gadungan dan tanaman gadung yang menjadi makanan pokok warga. Ia kemudian mengumumkan bahwa nama dusun Bojonegoro diubah menjadi Dusun Gadung, dan sumber air untuk wudhu dinamakan Tuk Gadung Sidomulyo.
Seiring waktu, kepemimpinan dusun beralih ke generasi berikutnya, yakni Mbah Wongsosentono yang menjadi Kamituwa Bangunkerto. Ia membentuk bregada Jagul Wulung sebagai penjaga keamanan. Anaknya, Wongso Sudirjo, menjadi carik Bangunkerto. Atas prakarsa dan dana Mbah Wongsosentono, dibangunlah Pendapa Mbah Carik sebagai pusat kegiatan dan rapat warga di Dusun Gadung.
Penulis : Eny Murtiningsih
Tenaga Ahli : Suhindriyo